SEMUA UNTUK SLAM

AHLAN WA SAHLAN

PERJUANGAN GARIS DEPAN WALAU KAU BUNUH JIWAKU TAK AKAN LARI AQIDAH DARIKU

Sabtu, 21 Mei 2011

GHAZAN KHAN SANG PEMBAHARU


Sang Kontributor Untuk Kejayaan Islam
        I.            PENDAHULUAN
Sejarah peradaban manusia selalu berkembang dari masa kemasa, sesuai dengan alur ritme kehidupan manusia yang mempunyai kecendrungan berkembang sesuai dengan ruang dan waktu. Perkembangan kehidupan manusia baik dari peradaban budaya, kepercayaan,pengetahuan berkembang dengan cepat,dari ketidak tahuan menjadi pengetahuan, ketidak beradaban menjadi sebuah peradaban mengikuti hukum alam.
Dalam perjalanan sejarah suatu bangsa sering terjadi sesuatu yang pelik dan tidak pernah terbayangkan. Sejarah Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan sejarah, perkembangannya  tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya, perkembangan politik dan perkembangan pemikiran. Masa kejayaan Islam telah terukir dalam sejarah. Demikian pula dengan masa kemunduran dan kehancurannya yang tidak mungkin luput dari unsur-unsur sejarah atau historis. Hal ini bisa dilihat dari pengertian sejarah sebagaimana diformulasi-kan oleh Taufik Abdullah adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut.[1]

     II.            PEMBAHASAN
Dalam perjalanan sejarah suatu bangsa sering terjadi sesuatu yang pelik dan tidak pernah terbayangkan. Orang Mongol yang dahulunya merupakan musuh dan seteru sengit orang Islam, pada akhirnya tunduk kepada kepercayaan penduduk negeri-negeri yang mereka takluki. Tidak lama setelah jatuhnya kota Baghdad itu telah banyak bangsawan dan pemimpin Mongol secara diam-diam memeluk Islam.
Pada awal abad ke-14 , tidak sampai seratus tahun permusuhan Mongol dengan umat Islam, sebagian besar orang Mongol yang berada di negeri-negeri kaum muslimin telah mula masuk ke dalam agama Islam dan kebudayaan masyarakatnya. Namun demikian, semua itu berjalan dalam proses yang berliku- liku. Sebelum berbondong-bondong memeluk Islam mereka telah menjadi penganut Syamanisme dan Budhisme yang fanatik. Usaha misionaris Kristian untuk mengkristiankan mereka bahkan hampir berhasil lebih dari dua tiga kali. Beberapa pemimpin Mongol bahkan telah menjalin kerjasama dan konspirasi dengan saja-raja Eropah dan pemimpin perang pasukan Salib mereka di tanah suci Jerusalem. Di antara bentuk-bentuk konspirasi itu ialah bersama-sama membantai dan menghancurkan negeri Islam.[2]
Masa khilafah Abbasiyah dielu-elukan sebagai masa keemasan Islam. Karena pada masa ini kemajuan dalam berbagai bidang sangat pesat. Namun jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan per-adaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.[3]
1.      Sejarah Mongol
Bangsa Mongol adalah suku bangsa di wilayah Mongolia, yang berbatasan dengan Cina di selatan, Turkestan di barat, Manchuria di timur, dan Siberia sebelah utara. Daerah ini kalau musim dingin, amat dingin dan kalau musim panas, amat panas. Angin panas (Samun) sering menimpa mereka[4]. Mereka hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka.
Bangsa ini berasal dari seorang tokoh terkemuka setempat bernama Alanja Khan. Ia mempunyai dua orang putra kembar bernama Tatar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Tatar dan Mongol. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan bangsa Mongol di kemudian hari.[5]
Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. Ia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, putranya Temujin yang masih berusia 13 tahun tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan bangsa Mongol dengan suku bangsa lain sehingga menjadi satu pasukan yang teratur dan tangguh. Pada tahun 1206 M., ia mendapat gelar Jengis Khan, Raja Yang Perkasa.[6] Ia menetapkan undang-undang yang disebutnya Alyasak atau Alyasah, untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan. Undang-undang ini juga mengatur tentang hukuman mati bagi pezina, orang yang sengaja berbuat bohong, melaksanakan magic, mata-mata, memberi makan atau pakaian kepada tawanan perang tanpa ijin, demikian pula bagi yang gagal melaporkan budak belian yang melarikan diri juga dikenakan hukuman mati.[7]
Jenghis Khan (melalui Alyasak) juga mengatur kehidupan beragama dengan tidak boleh merugikan antara satu pemeluk agama dengan yang lainnya, dan membebaskan pajak bagi keluarga Nabi Muhammad saw., para penghafal al-Qur’an, ulama, tabib, pujangga, orang saleh dan zuhud serta muazin/yang menyerukan adzan.[8]
Sedangkan dalam urusan militer, prajurit-prajurit bersenjata lengkap diinspeksi terlebih dahulu sebelum pergi berperang, dan setiap orang harus memperlihatkan segala sesuatu yang ia miliki, bahkan sampai jarum dan benang sekalipun. Kemudian jika seseorang didapatkan lengah, maka dia harus dihukum. Orang-orang perempuan diharapkan siap untuk membayar pajak kepada perbendaharaan negara selama suami-suami mereka pergi berperang. Jenghis Khan juga mendirikan pos pelayanan agar dia bisa memantau dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di negaranya[15]. Dari sini tampak bahwa armada perang Mongol sangatlah kuat dan memiliki kedisiplinan tinggi, sehingga banyak ditakuti musuh-musuhnya.

2.      Biografi Ghazan Khan
Ghazan lahir pada tanggal 4 Desember 1271 M. Ayahnya adalah Baidu Khan (1293-1295), merupakan keturunan Hulagu Khan.
Ghazan Khan adalah seorang pemimpin Dinasti Ilkhan yang lahir pada tahun 1271. Pada saat dia lahir, Dinasti Ilkhan dipimpin oleh kakeknya yaitu Abaqa Khan[5]. Pada saat kecil, Ghazan telah diajari tentang ajaran-ajaran agama Budha oleh kakeknya. Kakeknya menitipkan Ghazan kepada biksu-biksu yang dianggap terbaik dinegerinya agar Ghazan dapat menerima dan memahami ajaran-ajaran Budha. Kecerdasan yang dimiliki oleh Ghazan merupakan suatu kebahagian yang diterima oleh guru-guru (biksu) yang mengajari Ghazan, karena dengan mudah Ghazan kecil menerima dan memahami ajaran-ajaran itu secara mendalam dan mencapai tingkatan yang baik menurut guru-gurunya.[9]
Pada usia 10 tahun, Ghazan diangkat menjadi Gubernur Khurasan (Mazandaran dan Ray), oleh ayahnya yang telah menjadi penguasa setelah menggantikan kakeknya. Dengan kepandaian dan kebijaksanaan yang dimilikinya, Ghazan menjalankan tugasnya sebagai seorang Gubernur dengan sebaik-baiknya dibawah bimbingan Amir Nawroz yang selama 39 tahun telah menjalani hidupnya untuk melayani Chengis Khan dan keturunannya. Banyak perselisihan yang telah dialami oleh Ghazan semasa menjabat sebagai Gubernur, baik perselisihan dengan wilayah-wilayah lain maupun perselisihan dengan sepupunya yang semua itu terjadi karena kekuasaan dan perebutan kekuasaan.
Ghazan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan setelah ia masuk Islam pada tahun 1295. Salah satu keterangan yang menyebutkan tentang masuk Islamnya Ghazan adalah “perubahan kepercayaannya terjadi ketika terjadi suatu perjanjian dan sebuah persetujuan pada masa Baydu, antara bangsa Mongol dan kaum Muslim Persia. Kaum Muslim bersumpah dengan Al-Qur’an dan orang Mongol bersumpah dengan emas. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog antara Nawroz dan Ghazan, membahas tentang agama Islam. Ghazan merasa gusar setelah melakukan pembicaraan mengenai agama Islam. Hal itu mungkin karena hatinya mulai tersentuh oleh tetesan-tetesan kesejukan dari ajaran Islam. Setelah peristiwa itu, Ghazan melakukan pembicaraan dengan Shekh Sadr al-Din yang merupakan salah seorang penasehat Ghazan yang memeluk Islam. Ghazan bertanya sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya mengenai ajaran agama Islam, dan Shekh Sadr al-Din menjelaskan pada Ghazan bahwa Islam adalah agama yang sangat kuat dan jelas, terdiri dari semua peraturan dan jalan hidup. Beliau juga menjelaskan tentang kebesaran Allah sebagai tuhan yang Esa dan keutamaan Muhammad sebagai Rasulullah dengan tanda-tanda kerasullannya yang dapat dengan jelas dilihat dan pasti kebenarannya di sepanjang zaman”.[9]
Penjelasan-penjelasan yang diterimanya membuat Ghazan semakin yakin tentang ajaran Islam dan pada tahun itu pula (1295) Ghazan mengakui keesaan Allah dan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan.
Setelah menjadi seorang pemimpin VII dari dinasti Ilkhan, Ghazan memberikan gelar pada dirinya “Ruler by the Grace of God (Penguasa Berkat Tuhan) dan berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dengan sebaik-baiknya untuk memimpin negaranya. Ghazan Khan naik tahta di persia pada usianya yang ke 24 tahun. Rakyat merasa simpati dan hidup nyaman dengan penerapan nilai-nilai Islam sebagai landasan Negara. Hal itu menimbulkan keterbukaan hati rakyat untuk memeluk Islam sebagai agama mereka sebagaimana juga agama yang dianut oleh pemimpin mereka itu. Pada masa Ghazan Khan, terjadi Islamisasi besar-besaran. Islamisasi yang terjadi bukan karena paksaan dan kekerasan, namun karena ketulusan hati mereka untuk memeluk Islam sebagai agama mereka dan menjalankan syariat Islam yang telah mereka rasakan memberikan kebahagiaan yang jelas terhadap kehidupan mereka sebagaimana yang telah dijalankan oleh Ghazan sebagai pemimpin mereka.
Ghazan Khan adalah seorang pemimpin muslim yang bijaksana dan adil. Dia adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Muhammad saw bahwa “Pemimpin-pemimpin pilihan diantara engkau semua ialah orang-orang yang engkau semua mencintai mereka dan mereka pun mencintaimu semua, juga yang engkau semua mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untukmu semua”. Kecintaan Ghazan Khan pada rakyatnya dicerminkan dengan memakmurkan rakyatnya terutama dari golongan petani dan buruh kasar lainnya yang pada masa sebelumnya memperoleh penindasan berupa pemaksaan pembayaran pajak yang begitu besar dari pemimpin dan pejabat Negara sebelumnya.[10]
3.      Kontribusi Ghazan Khan terhadap kemajuan Islam
Dinasti Ilkhan pada saat masih dipegang oleh raja-raja yang belum memeluk agama Islam seperti Hulagu Khan, Abagha Khan, Argun, Gaygatu dan Baydu perhatian mereka terhadap upaya memajukan dan mengembangkan peradaban Islam tidak ada. Hal ini bisa terjadi karena karena didorong oleh semangat kebencian terhadap Islam.
Sebuah perubahan yang sangat mendasar mulai nampak pada masa Mahmud Ghazan. Pada masa Mahmud Ghazan, Dinasti Ilkhan mulai bergerak menuju ke arah sentralisasi kekuasaan negara dan mewujudkan kembali kejayaan kultur monarki Seljuk periode Iran Turki. Pada masa pemerintahan Mahmud Ghazan (1295-1304 M), Dinasti Ilkhan mulai membangun beberapa kota dengan mengembangkan beberapa proyek irigasi, mensponsori kemajuan pertanian dan perdagangan dengan cara-cara yang pernah dikembangkan oleh beberapa imperium Timur Tengah. Kemudian secara khusus, dinasti ini mulai membuka rute perdagangan yang menghubungkan Asia Tengah dengan Cina.
a.       Pendidikan
Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastera. Ia sangat mencintai kesenian terutama seni arsitektur dan ilmu pengetahuan seperti astronomi, kimia, mineralogi, metalurgi dan botani (Hasan Ibrahim Hassan, 1989: 309). Ia juga banyak membangun infrastruktur keagamaan dan pendidikan seperti menyediakan biara untuk para darwis, perguruan tinggi untuk madzhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan gedung-gedung umum lainnnya(Hassan Ibrahim Hassan, 1989: 312).
Meskipun banyak peperangan dan memperoleh tekanan dari dalam, tampilnya Mahmud Ghazan sebagai raja yang ketujuh, pada periode dapat dikatakan sebagai periode kemakmuran bagi Dinasti Ilkhan. Dengan masuknya Ghazan ke dalam Islam, proses rekonsiliasi antara kelas penguasa Turki-Mongol dan rakyatnya mulai terjadi. Ibukota Ilkhaniyah, Tabriz dan Maragha menjadi pusat ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sejarah dan ilmu-ilmu kealaman (C.E. Bosworth, 1993: 177).[11]
Pada masa Mahmud Ghazan, elite-elite militer Dinasti Ilkhan telah berpindah ke agama Islam dan mengambil legitimasi kulturalnya dari tradisi Mongolian dan juga dari sumber-sumber kesusastraan Iran. Berkat dukungan penguasa Mongol-Muslim, penulisan sejarah yang mencerminkan kepedulian raja Mahmud Ghazan terhadap nasib dunia ini berkembang dengan subur.
b.      Budaya
Konstribusi Raja Mahmud Ghazan dalam menegakkan kembali kejayaan kerajaan Iran yang paling cemerlang adalah usahanya mengembangkan seni lukis dan seni ilustrasi manuskrip. Beberapa tulisan sejarah karya Rasyid al-Din terus menerus disalin dan diilustarikan. Demikian juga syair-syair efik dari karya Syah Name dan Life of Alexander , dan beberapa fable dari karya Kalila wa Dimah. Kota Tabriz sendiri telah menjadi pusat bagi sebuah sekolah seni lukis dan seni ilustrasi yang sangat pesat pada saat itu.[12]
Dinasti Ilkhan, setelah dipegang raja-raja Muslim telah bekerja keras membangun sejumlah bangunan makam yang monumental, dan melestarikan bentuk-bentuk arsitektural bangsa Iran terdahulu pada beberapa monumen di Tabriz, Sultaniyah, dan Varamin. Yang paling terkenal di antara konstruksi peninggalan Dinasti Ilkhan adalah bangunan makam Muhammad Khudabanda Uljaytu (1304-1317) di Sultaniyah, yang dilengkapi dengan kubah besar di tengahnya yang melambangkan kemajuan teknik arsitektural yang tinggi di mana permukaan eksteriornya dihiasi dengan berbagai plester ubin, keramik dan batua-batuan yang berwarna-warni.
Dinasti Ilkhan tidak mengembangkan sebuah identitas kebahasaan atau identitas keagamaan yang baru di Timur Tengah. Berbeda dengan bangsa Arab yang berhasil mengubah identitas kebahasaan dan keagamaan wilayah Timur Tengah, bangsa Mongol justru terserap ke dalam kultur Persia (Ira M. Lapidus, 1999:431). Sikap terbuka dari para penguasa Mongol Muslim pada masa Dinasti Ilkhan dan hubungan-hubungan mereka dengan kultur-kultur yang berbeda seperti kultur Eropa Kristen dan Cina telah membawa pengaruh yang segar terhadap pengembangan kegiatan intelektual, komersial dan seni ke dunia Persia. Hal ini terlihat ketika koloni-koloni para pedagang Italia banyak terdapat di kota Tabriz yang keberadaannnya telah memainkan peranan penting sebagai penghubung dalam kegiatan perdagangan dengan Timur jauh dan India[13].
Begitu juga sikap terbuka ditunjukkan para penguasa Mongol Muslim dari Dinasti Ilkhan terhadap masuknya pengaruh Cina yang diperkenalkan oleh kaum pelancong, tentara dan pedagang Mongol yang melintasi Asia Tengah dalam kegiatan perdagangan sutra dan rempah-rempah Cina. Beberapa pengaruh Cina sangat menonjol pada pengambaran artistik panorama alam, burung, bunga-bunga, dan awan; pada komposisi bidang lukis yang terikat pada bidang yang menyusut, dan pada cara-cara baru dalam mengelompokkan gambar-gambar manusia. Salah satu tipe dari gambaran manusia adalah pertama, bersifat aristokratik, yang digambarkan dengan wajah memanjang, tanpa bergerak, agaknya secara sepintas ia diibaratkan dengan sebuah gerakan kepala atau jari. Kedua adalah gambaran yang bersifat karikatur degan ungkapan yang sangat berlebihan perihal komedi dan kesengsaraan.
c.       Ekonomi
Keberhasilan Ghazan dalam membangun perekonomian yang telah hancur sebelumnya memperoleh hasil yang baik. Kehidupan ekonomi yang baik telah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga tingkat kriminalitas yang terjadi diwilayahnya dapat diminimalisir. Selain kebijakan dalam bidang ekonomi, Ghazan juga melakukan perbaikan-perbaikan dalam bidang hukum sehingga peradaban bangsa mongol saat dipimpin oleh Ghazan mencapai masa-masa keemasan.
Spuler menuliskan “Saat Ghazan naik tahta, kas Negara kosong. Harta yang diperoleh berlimpah hasil penaklukan Baghdad dicuri oleh penjaga, dan di gunakan semena-mena sebelum Ghazan (sejak Abaqa sampai Arghun), bahkan sampai saat Ghazan naik tahta, tidak tertinggal apa-apa”. Kas Negara yang kosong tidak menurunkan mental Ghazan Khan untuk terus memimpin pemerintahannya. Mungkin Ghazan menganggap hal tersebut sebagai sebuah tantangan dan cobaan yang harus dilaluinya sebagai seorang pemimpin muslim.[14]
Selain permasalahan finansial yang harus ia seleseaikan, permasalahan lain yang menimbulkan kesengsaraan rakyat seperti pemungutan pajak yang berlebihan, masalah keamanan yang ditimbulkan karena pemberontakan dan lemahnya kendali keamanan dalam negeri, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kesejahteraan Negara dan rakyatnya juga harus diselesaikan oleh Ghazan Khan.
Dengan dibantu oleh Rashid al-Din sebagai penasehat dan jurutulis yang selalu setia mendampingi, Ghazan secepat mungkin memulihkan kondisi ekonomi dan politik di negaranya. Rashid al-Din mencoba memeriksa kembali beberapa sistem keuangan dan perpajakan yang banyak disalahgunakan oleh pemimpn-pemimpin atau petugas-petugas negara sebelumnya. Pada saat sebelumnya, sistem keuangan tidak dicatat dengan baik, tidak ada perincian tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan. Hal itu sangat rentan menimbulkan penyalahgunaan keuangan oleh pihak-pihak tertentu dan memang hal itulah yang telah terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya. Para petugas perpajakan dapat seenaknya melakukan kecurangan-kecurangan sehingga pajak yang dikumpulkan dari rakyat tidak sampai ke pusat pemerintahan yang mengakibatkan keuangan Negara selalu berada dalam kondisi kekurangan, bahkan negara tidak mampu untuk membayar gaji para pegawai dan tentara tepat pada waktunya.
Ghazan Khan mengenal betul sumberdaya yang dimiliki oleh bangsanya. Sumber daya utama yang ada di wilayahnya adalah lahan pertanian yang subur. Ghazan yang dibantu oleh Rashid setelah membangun suatu sistem keuangan yang lebih baik dan lebih terkontrol kemudian mengambil langkah untuk memotivasi para rakyatnya terutama dari golongan petani agar mau kembali menggarap sawah-sawahnya. Pada mulanya para petani enggan untuk menggarap sawah, karena pajak yang tinggi atas hasil pertanian. Kemudian dalam rangka memberikan motivasi pada para petani, Ghazan mengambil kebijakan dengan mengurangi pajak bagi hasil pertanian hingga seminimal mungkin bahkan memberikan bantuan bibit secara cuma-cuma kepada mereka. Karena pada saat itu keuangan Negara berada pada titik minimal, maka Ghazan memerintahkan kepada para pejabat negaranya yang memiliki kekayaan berlebih sebagai sponsor utama dari kebijakannya untuk menggalakan pertanian.
Pengelolaan hasil pertanian diperhatikan dengan baik oleh Ghazan. Dia menggunakan sistem manajemen yang baik untuk menyimpan dan mendistribusikan hasil pertanian, bahkan data tentang jenis-jenis komoditas pertanian dan peternakan ditata dengan sangat baik sehingga informasi tentang segala komoditas tersebut dapat diakses oleh seluruh golongan masyarakat dan kegiatan jual beli hasil komuditas dapat berjalan dengan effektif dan effisien. Kegiatan Ghazan dalam menyusun data komuditas ini mungkin serupa dengan apa yang diterapkan oleh Ilmu Manajemen saat ini atau yang sering disebut dengan Sistem Informasi Manajemen.
Selain pendataan yang baik, Ghazan juga melakukan kegiatan yang dalam Ilmu Manajemen saat ini sering disebut dengan Research and Development Program yaitu program yang dilakukan untuk lebih mengembangkan dan mempelajari inovasi-inovasi baru yang terkait dengan bidang pertanian dan perternakan. Ghazan mengirim banyak utusan ke China dan India untuk mengumpulkan bibit lokal dan membawanya kembali ke Tabriz, dimana jenis-jenis tanaman tersebut kemudian di kembangkan dan diusahakan untuk ditanam diwilayahnya.[15]

   III.            PENUTUP
            Realita peradaban suatu bangsa tidaklah selalu kekal, di buktikan pada perkembangan peradaban pada masa Dinasti Ilkhan yang suram. Kendatipun pada awalnya kehadirannnya kerap dikatakan sebagai sebagai dinasti pembawa bencana, namun dalam perjalanan sejarahnya dinasti ini telah memiliki andil di dalam upaya membangun dan mengembangkan peradaban Islam, terutama sekali setelah dinasti ini diperintah oleh raja-rajanya yang memeluk agama Islam.
Pada masa Dinasti Ilkhan dipegang oleh raja-raja yang telah memeluk Islam peradaban Islam berkembang dengan pesat, sekalipun tidak dapat dipersamakan dengan periode sebelumnya. Hal ini terlihat dari masih banyak berbagai bentuk khazanah peninggalan peradaban yang ditinggalkan pada periode ini. Ini telah mengindikasikan bahwa para penguasa Muslim Mongol dari dinasti ini banyak memberikan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan infrastruktur masyarakat, perbakaikan ekonomi bahkan peradaban Islam.











  IV.            DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), cet .VII
Bosworth C.E. 1993. Dinasti-dinasti Islam. Bandung : Mizan
http://adingkusdiana.blogspot.com/2008/08/makalah-sejarah-islam.html
Http://dakwah.info/ini-sejarah-kita/hancurnya-sebuah-peradaban-serangan-monggol
Karim, Abdul. Islam di Asia Tengah: Sejarah Dinasti Mongol Islam, Yogyakarta: Bagaskara, 2006.
Lapidus, Ira M. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004),
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997
Nata, Abudin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet. VIII, 2003.
www.wikipedia Indonesia.com
www.wikipedia.org/. History,




[1] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), cet. VIII, h. 46.
[2] Http://dakwah.info/ini-sejarah-kita/hancurnya-sebuah-peradaban-serangan-monggol/
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), cet.VII, h. 111.
[4] Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004), h. 168.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), cet.VII, h. 241.
[6]           Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, dll, nama asalnya Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen.
            Jenghis Khan dilahirkan dengan nama Temüjin sekitar tahun 1162 dan 1163, anak sulung Yesügei, ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama ketua musuh yang ditewaskan ayahnya.
            Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.
            Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda. Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin.
            Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri. Dia adalah khan Mongol dan ketua militer yang menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia. Penggantinya kelak yang melakukan perluasan Mongolia menjadi kekaisaran terluas dalam sejarah manusia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan, pemerintah Tiongkok bagi Dinasti Yuan di China. (didownload dari www.wikipedia Indonesia.com yang diupload pada 5 desember 2010 M.
[7] Muhammad Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Indonesia Spirit Foundation, 2004), h. 168.

[8] Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997.hal 147

[9] http://hasanrizal.wordpress.com di akses 5 desember 2010

[10] http://en.wikipedia.org/wiki/Ghazan

[11] Lihat http://adingkusdiana.blogspot.com/2008/08/makalah-sejarah-islam.html

[12] Lapidus, Ira M. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: Rajawali Pers.hal 432
[13] Bosworth C.E. 1993. Dinasti-dinasti Islam. Bandung : Mizan, hal 177
[14] www.wikipedia.org/. History, akses 5 desember 2010

[15] Karim, Abdul. Islam di Asia Tengah: Sejarah Dinasti Mongol Islam, Yogyakarta: Bagaskara, 2006. Hal 110

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar