SEMUA UNTUK SLAM

AHLAN WA SAHLAN

PERJUANGAN GARIS DEPAN WALAU KAU BUNUH JIWAKU TAK AKAN LARI AQIDAH DARIKU

Senin, 30 Mei 2011

Agar Menjadi Manusia Terbaik

ijk

 Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir mengutip sebuah hadits dari Jabir yang berbunyi:
خَيْرُ النَّاِس أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاِس
“Sebaik-baik manusia adalah Orang yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Al Qhodhoi’, hadits Hasan)
Manusia adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, karenanya dia memerlukan makhluk lain untuk dan dalam kehidupan dirinya. Maka sudah pasti tidak ada satu pun makhluk yang bisa hidup sendiri, melainkan semua saling memerlukan dan saling ketergantungan.

Karena saling memerlukan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling memberi dan mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim, dan itulah keindahan alam ciptaan Allah Azza wajalla.
Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku dzalim dan curang. Dan kita akan mengatakan  bahwa  seseorang  telah berbuat jahat dan dzalim untuk dirinya ketika dia mengambil banyak manfaat dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain. Dan ini terlarang dari segi apapun juga, baik dari sisi syari’ah maupun hukum alam. Allah azza wajalla berfirman:
 “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang Menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ali Imran, 3: 117)
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridha dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi kepada orang lain dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes. Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah Saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan.
Pertama, karena ia dicintai Allah Swt. Rasulullah Saw. pernah bersabda yang  artinya: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kalau begitu siapa kah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah Saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I’tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِي عَوْنٍ أَخٍيْهٍ
“Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba Muslim selama dia menolong saudaranya yang Muslim.” (HR Muslim)
Jika demikian, apakah kerugian seorang hamba jika dia selalu menolong saudaranya, bahkan dia senantiasa mendapatkan pertolongan Allah Swt karena bantuan yang diberikan kepada seorang Muslim lainnya.
Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah Swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah Swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik pula.
Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah Saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah Swt. Karena itu di dalam salah satu ayat surat At-Taubah, Allah Swt. menyuruh Rasulullah Saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.
Allah berfirman:
 “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah, 9: 105)
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita.
Pertama: Tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt.
Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah Swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala. Ketika iman kita memuncak kepada Allah Swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah Saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah Saw. Bilal mengimani janji Rasulullah Saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedakah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun. Rasulullah Saw bersabda:
يَاابْنَ أَدَمَ اَنْفِقْ اُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Wahai anak Adam, berinfaqlah kamu, kamu akan diberi infaq.” (HR Muslim)
Kedua: Mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Supaya bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih inilah jalan terbaik dilakukan oleh setiap orang. Allah Swt. memberi contoh kaum Anshor dengan firman Nya:
 “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr, 59: 9)
 Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Ketiga: Tanamkan dalam diri bahwa harta yang berkekalan adalah yang disimpan disisi Allah yakni yang diberikan kepada orang lain.
Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika seperti ini  telah diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada ummatnya. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan. Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat di manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika teleh di makan. Begitulah sifat harta , Jika tidak dimanfaatkan untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat: Menjadikan diri sebagai teladan kesolehan.
Kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika didalam hati kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dapati dari tetangga. Ingatlah kebakhilan itu tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi si bakhil itu, bahkan dia akan binasa karena kebakhilan yang selalu dipraktikkan. Allah Swt berfirman:
 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Ali Imran 3:180)
 Kelima, Harus berusaha menjadi Orang yang memiliki kelebihan.
Untuk bisa memberi, tentu seseorang harus memiliki sesuatu untuk diberi.Tidak mungkin seseorang yang tidak memiliki akan memberi sesuatu. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.Mudah-muhan yang sedikit ini bisa menjadi motivasi untuk menambah amal shaleh. Amien ya Rabbal alamien.




*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar